Senin, 30 Januari 2023
Hari ini cuaca tidak secerah biasanya. Senyum mentari tertutup awan mendung. Angin berhembus lembut, terasa dingin menyentuh kulit. Suasana terasa sangat teduh.
"Rifqi, Rifda buruan, keduluan hujan nanti nak" panggilku pada anak-anak. Mereka mengikat tali sepatu di teras dengan begitu lambatnya. Sambil berlari, Rifda kembali masuk rumah "Sebentar Bunda, Ida lupa bawa cermin", jawab putri bungsuku, "Cermin buat apa? Ida udah cantik" Sahutku. Rifda langsung keluar dengan membawa cermin kecilnya" Untuk apa cerminnya?", tanyaku lagi, " Kepo aja Bunda " jawab rifda sambil menaiki sepeda motor, duduk di depan Rifqi kakaknya. "Ayo berdoa dulu!" ku pimpin mereka berdoa seperti biasanya بِسْمِاللَّهِتَوَكَّلْتُعَلَىاللَّهِوَلاحَوْلَوَلاقُوَّةَإِلاَّبِاللَّه".
Sepuluh menit berlalu, alhamdulillah sampailah aku di sekolah, tepat pada pukul 07.20 Wita, setelah sebelumnya mengantar anak-anak ke sekolahnya . Aku segera membuka aplikasi esensi di HP untuk absensi, sambil berjalan ke ruang guru meletakkan tas ransel yang cukup berat diatas meja. Mataku memandang keluar, tampak semua siswa dan beberapa bapak/ibu guru sudah berada di lapangan bersiap-siap mengikuti upacara bendera, kegiatan rutin setiap hari senin. Kubergegas melangkah menuju barisan ibu guru dan pegawai, tepat di samping Ibu Marliana seorang rekan guru tempatku berdiri.

Rangkaian acara satu persatu dilaksanakan, tiba waktunya amanat pembina upacara. Pembina upacara kali ini adalah Bapak Masyhuri, S.Pd yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Dalam amanatnya, Beliau mengingatkan bahwa masih banyak terjadi pelanggaran kedisiplinan. " Dunia sudah bicara bagaimana sampai di planet Mars, bagaimana menjelajah luar angkasa, bahkan sudah bicara tentang dunia metaverse, eh kita masih saja disibukkan dengan masalah kedisiplinan, baris-berbaris, datang terlambat, terus kita kapan majunya?". Demikian orasi Bapak Masyhuri. Singkatnya pesan yang disampaikan bersifat evaluatif.
Aku berfikir, bagaimana Bangsa Indonesia di masa depan, jika anak mudanya masih belum faham arti disiplin. Masih Asyik bermain game saat belajar di kelas, masih senang bolos sekolah dan banyak lagi prilaku indispliner lainnya. Mereka tidak menyadari, jika sepuluh, duapulih tahun yang akan dtang mereka yang akan menjadi ujung tombak bangsa ini.
Akhirnya upacara bendera usai, anak-anak membubarkan diri, kembali ke ruang kelas masing-masing. Sesaat kemudian bel tanda masuk berbunyi, Bapak/Ibu Guru satu persatu menuju ke kelas. Di pojok sekitar empat meter dari depan mintu masuk ruang guru tepat posisi mejaku, tempat yang cukup kondusif berkatifitas dengan laptop. Ku mulai membuka laptop kecil, teman setiaku, Ku aktifkan internetnya dan menjelajah dunia maya. Jam pelajaran pertama ini aku manfaatkan untuk mempelajari materi melalui link youtube yang kusematkan di browser. Link yang kudapatkan di group kelas menulis.
Tak terasa jam istiraht berbunyi, sesaat lagi tiba waktu mengajarku. Ku bookmark video yang belum selesai ku tonton, kumatikan laptop, kurapikan buku paket, daftar hadir siswa dan kotak spidol yang sudah ada di atas mejaku lima belas menit berlalu, bel masuk sudah berbunyi, aku percepat langkahku menuju kelas. Ruang kelasku kali ini terletak di gedung depn bagian utara samping gerbang utama sekolah, tepatnya di kelas XII IPA 2.
Begitu masuk kelas, ku memberi salam "Assalaamualaikum selamat pagi anak-anak" merekapun balik memberi salam. Dengan posisi berdiri di belakang meja, aku langsung menyapa para siswa, "hari ini kita penilaian harian ya, masih ingat?", anak-anak hanya tersenyum. "Soalnya yang mudah-mudah aja ya bu guru" celetuk Tia dari mejanya yang bertepatan di hadapan mejaku. " Pasti bisa jawab, kalo sudah belajar" jawabku.
Materi penilai harian kali ini adalah Integral Tentu dan Penerapannya. Terdiri dari enam butir soal essay. Gesture dan ekspresi wajah para siswa yang sedang ujian saya abadikan dalam foto berikut ini
Tampak bermacam-macam gesture mereka. Sebagian mereka memegang kepala seperti bingung dan berfikir, ada yang menatap jawabannya dengan ekspresi ragu-ragu, ada juga yang melirik lembar jawaban temannya dengan penuh harap bahkan ada yang gigit jari seperti tak percaya diri dengan jawabannya. Ini adalah gesture dan ekspresi yang sering dijumpai pada setiap ujian.
Tak terasa dua jam pelajaran sudah berlalu, waktunya semua siswa mengumpulkan kertas ujiannya"Silahkan selesai atau belum, lembar jawaban dikumpulkan, karena waktunya sudah habis". Demikian perintahku. Satu persatu mereka maju mengumpulkan lembar jawabannya, sampai terkumpul semuanya.
Aku mengakhiri Pertemuan dengan memberikan pesan"Belajar lebih rajinn, karena ujian sudah dekat" dan aku langsung memberi salam pada mereka lalu beranjak keluar kelas.
Demikian ceritaku hari ini. sedikit cerita tentang aktifitasku di sekolah.
Demikian cerita aku dan sekolahku hari ini.
Salam Literas
Komentar
Posting Komentar